Wednesday, March 7, 2018

PERKARA IKHTILAF DAN MADZHAB


PERKARA IKHTILAF DAN MADZHAB

Makna Khilaf dan Ikhtilaf.

Untuk mengetahui makna kata khilaf dan ikhtilaf, mari kita lihat penggunannya dalam bahasa Arab:

خالعته مخالعة وخالفا وتخالف القوم واختلعوا إذا ذهب كل واحد إلى خالف ما ذهب إليه اآلخر
Saya berbeda dengannya dalam suatu perbedaan [  وخالفا مخالعة خالعته]

] وتخالف القوم واختلعوا إذا ذهب كل واحد إلى خالف ما ذهب إليه اآلخر[

Kaum itu telah ikhtilaf; jika setiap orang pergi ke tempat yang berbeda dari tempat yang dituju orang lain15.
Jadi makna Khilaf dan Ikhtilaf adalah: adanya perbedaan.

Sebagian ulama berpendapat bahwa Khilaf dan Ikhtilaf mengandung makna yang sama. Namun ada juga ulama yang membedakan antara Khilaf dan Ikhtilaf,
االختالف ال الخالف والعرق أن لألول دليال ال الثاني
Ikhtilaf: perbedaan dengan dalil. Khilaf: perbedaan tanpa dalil16.

Maka selalu kita mendengar orang mengatakan, “Ulama ikhtilaf dalam masalah ini”, atau ungkapan, “Ini adalah masalah Khilafiyyah”.
Maksudnya, bahwa para ulama tidak satu pendapat dalam masalah tersebut.

Contoh Ikhtilaf Ulama Dalam Memahani Nash:

Allah Swt berfirman:

15 Imam Ibnu ‘Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala ad-Durr al-Mukhtar Syarh Tanwir al-Abshar,
juz.VII (Beirut: Dar al-Fikr, 1421H), hal.197
16 Imam ‘Ala’ ad-Din Muhamad bin Ali al-Hashfaki, Ad-Durr al-Mukhtar, juz.V (Beirut: Dar al-Fikr, 1386H), hal.403.

Dan usaplah kepalamu”. (Qs. Al-Ma’idah [5]: 6).


Hadits Riwayat Imam Muslim:

Ibnu al-Mughirah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Saw berwudhu’, beliau mengusap ubun- ubunnya, mengusap bagian atas sorban dan bagian atas kedua sepatu khufnya”. (HR. Muslim).


Hadits Riwayat Imam Abu Daud:
Dari Anas bin Malik, ia berkata, “Saya melihat Rasulullah Saw berwudhu’, di atas kepalanya ada sorban buatan Qathar. Rasulullah Saw memasukkan tangannya dari bawah sorbannya, beliau mengusap bagian depan kepalanya, beliau tidak melepas sorbannya”. (HR. Abu Daud).


Hadits Riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim.

Kemudian Rasulullah Saw mengusap kepalanya. Rasulullah Saw (menjalankan kedua telapak) tangannya ke depan dan ke belakang, beliau awali dari bagian depan kepalanya, hingga kedua (telapak) tangannya ke tengkuknya, kemudian ia kembalikan lagi ke tempat semula. (HR. al- Bukhari dan Muslim).
Menyikapi ayat dan beberapa hadits tentang mengusap kepala diatas, muncul beberapa pertanyaan: bagaimanakah cara mengusap kepala ketika berwudhu’? Apakah cukup menempelkan telapak tangan yang basah ke bagian atas rambut? Atau telapak tangan mesti dijalankan di atas kepala? Apakah cukup mengusap ubun-ubun saja? Atau mesti mengusap seluruh kepala? Di sinilah muncul Ikhtilaf diantara ulama.
Para ulama berijtihad, maka ada beberapa pendapat ulama tentang mengusap kepala ketika berwudhu’:
Mazhab Hanafi:

Wajib mengusap seperempat kepala, sebanyak satu kali, seukuran ubun-ubun, diatas dua daun telinga, bukan mengusap ujung rambut yang dikepang/diikat. Meskipun hanya terkena air hujan, atau basah bekas sisa air mandi, tapi tidak boleh diambil dari air bekas basuhan pada anggota wudhu’ yang lain, misalnya air yang menetes dari pipi diusapkan ke kepala, ini tidak sah.
Dalil Mazhab Hanafi:

1.                 Mesti mengikuti makna mengusap menurut ‘urf (kebiasaan).

2.                 Makna huruf Ba’ pada ayat  [برؤوسكم] artinya menempel. Menurut kaedah, jika huruf Ba’ masuk pada kata yang diusap, maka maknanya mesti menempelkan seluruh alat yang mengusap. Maka mesti menempelkan telapak tangan ke kepala. Jika huruf Ba’ masuk ke alat yang mengusap, maka mesti mengusap seluruh objek yang diusap. Jika seluruh telapak tangan diusapkan ke kepala, maka bagian kepala yang terkena usapan adalah seperempat bagian kepala. Itulah bagian yang dimaksud ayat mengusap kepala.

3.                 Hadits yang menjelaskan ayat ini, riwayat Abu Daud dari Anas, ia berkata, “Saya melihat Rasulullah Saw berwudhu’, di atas kepalanya ada sorban buatan Qathar, Rasulullah Saw memasukkan tangannya dari bawah sorbanya, ia engusap bagian depan kepalanya, ia tidak melepas sorbannya”. Hadits ini menjelaskan ayat yang bersifat mujmal (global/umum). Ubun-ubun atau bagian depan kepala itu seperempat ukuran kepala, karena ubun-ubun satu bagian dari empat bagian kepala.


Mazhab Maliki:

Wajib mengusap seluruh kepala. Orang yang mengusap kepala tidak mesti melepas ikatan rambutnya dan tidak mesti mengusap rambut yang terurai dari kepala. Tidak sah jika hanya mengusap rambut yang terurai dari kepala. Sah jika mengusap rambut yang tidak turun dari tempat yang diwajibkan untuk diusap. Jika rambut tidak ada, maka yang diusap adalah kulit kepala, karena kulit kepala itulah bagian permukaan kepala bagi orang yang tidak memiliki rambut. Cukup diusap satu kali. Tidak dianjurkan mengusap kepala dan telinga beberapa kali usapan.
Dalil Mazhab Maliki:

1.                 Huruf Ba’ mengandung makna menempel, artinya menempelkan alat kepada yang diusap, dalam kasus ini menempelkan tangan ke seluruh kepala. Seakan-akan Allah Swt berfirman, “Tempelkanlah usapan air ke kepala kamu”.

2.                 Hadits riwayat Abdullah bin Zaid, “Sesungguhnya Rasulullah Saw mengusap kepalanya dengan kedua tangannya, ia usapkan kedua tangan itu ke bagian depan dan belakang. Ia mulai dari bagian depan kepala, kemudian menjalankan kedua tangannya hingga ke tengkuk, kemudian ia kembalikan lagi ke bagian depan tempat ia memulai usapan”. Ini menunjukkan disyariatkan mengusap seluruh kepala.


Mazhab Hanbali:
Seperti Mazhab Maliki, dengan sedikit perbedaan:

1.  Wajib mengusap seluruh kepala hanya bagi laki-laki saja. Sedangkan bagi perempuan cukup mengusap kepala bagian depan saja, karena Aisyah mengusap bagian depan kepalanya.

2.  Wajib mengusap dua daun telinga, bagian luar dan bagian dalam daun telinga, karena kedua daun telinga itu bagian dari kepala. Sebagaimana hadits riwayat Ibnu Majah, “Kedua telinga itu bagian dari kepala”.


Mazhab Syafi’i:

Wajib mengusap sebagian kepala. Boleh membasuh kepala, karena membasuh itu berarti usapan dan lebih dari sekedar usapan. Boleh hanya sekedar meletakkan tangan di atas kepala, tanpa menjalankan tangan tersebut di atas kepala, karena tujuan mengusap kepala telah tercapai dengan sampainya air membasahi kepala.
Dalil Mazhab Syafi’i
1.            Hadits riwayat al-Mughirah dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, “Sesungguhnya Rasulullah Saw mengusap ubun-ubunnya dan bagian atas sorbannya”. Dalam hadits ini disebutkan cukup mengusap sebagian saja. Yang dituntut hanyalah mengusap secara mutlak/umum, tanpa ada batasan tertentu, maka sebagian saja sudah mencukupi.

     2.  Jika huruf Ba’ masuk ke dalam kata jama’ (plural), maka menunjukkan makna sebagian, maka       maknanya, “Usapkan sebagian kepala kamu saja”. Mengusap sedikit sudah cukup, karena sedikit      itu sama dengan banyak, sama-sama mengandung makna mengusap17.
Komentar Syekh Mahmud Syaltut dan Syekh Muhammad Ali as-Sais, dikutip oleh Syekh DR.Wahbah az-Zuhaili:
والحق: أن اآلية من قبيل المطلق، وأنها ال تدل على أكثر من إيقاع المسح بالرأس، وذلك يتحقق بمسح الكل، وبمسح أي
جزء قل أم كثر، ما دام في دائرة ما يصدق عليه اسم المسح، وأن مسح شعرة أو ثالث شعرات ال يصدق عليه ذلك .


Yang  benar,  bahwa  ayaUsaplah kepala kamu” termasuk ayat yang bersifat umum, tidak menunjukkan lebih dari sekedar mengusap kepala. Usapan itu sudah terwujud apakah dengan mengusap seluruh kepala, mengusap sebagian kepala, sedikit atau pun

17 Lihat selengkapnya dalam al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu, Syekh Wahbah az-Zuhaili, Juz.II (Damascus: Dar al-Fikr), hal.323-325.

banyak, selama dapat dianggap sebagai makna mengusap. Adapun mengusap satu helai atau tiga helai rambut, tidak dapat dianggap mengusap18.
Dari uraian diatas dapat dilihat:

Pertama, mazhab bukan agama. Tapi pemahaman ulama terhadap nash-nash (teks) agama dengan ilmu yang ada pada mereka. Dari mulai pemahaman mereka tentang ayat, dalil hadits, ‘urf, sampai huruf Ba’ yang masuk ke dalam kata. Begitu detailnya. Oleh sebab itu slogan “Kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah”, memang benar, tapi apakah setiap orang memiliki kemampuan? Apakah semua orang memiliki alat untuk memahami al-Qur’an dan Sunnah seperti pemahaman para ulama?! Oleh sebab itu bermazhab tidak lebih dari sekedar bertanya kepada orang yang lebih mengerti tentang suatu masalah, mengamalkan firman Allah Swt,

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui ”. (Qs. an-Nahl [16]: 43).
Kedua, ikhtilaf mereka pada furu’ (permasalahan cabang), bukan pada ushul (dasar/prinsip). Mereka tidak ikhtilaf tentang apakah wudhu’ itu wajib atau tidak. Yang mereka perselisihkan adalah masalah-masalah cabang, apakah mengusap itu seluruh kepala atau sebagiannya saja? Demikian juga dalam shalat, mereka tidak ikhtilaf tentang apakah shalat itu wajib atau tidak? Semuanya sepakat bahwa shalat itu wajib. Mereka hanya ikhtilaf tentang cabang-cabang dalam shalat, apakah basmalah dibaca sirr atau jahr? Apakah mengangkat tangan sampai bahu atau telinga? Dan sejeninsya.
Ketiga, tidak membid’ahkan hanya karena beda cara melakukan. Yang mengusap seluruh kepala tidak membid’ahkan yang mengusap sebagian kepala, demikian juga sebaliknya. Selama perbuatan itu masih bernaung di bawah dalil yang bersifat umum.
Ikhtilaf tidak hanya terjadi pada masa generasi khalaf (belakangan). Kalangan Salaf (generasi tiga abad pertama Hijrah); para shahabat Rasulullah Saw, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’in juga Ikhtilaf dalam masalah-masalah tertentu.


Ikhtilaf Shahabat Ketika Rasulullah Saw Masih Hidup.


ْ18 Ibid., hal.326.

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Rasulullah Saw berkata kepada kami ketika beliau kembali dari perang Ahzab, ‘Janganlah salah seorang kamu shalat ‘Ashar kecuali di Bani Quraizhah’. Sebagian mereka memasuki shalat ‘Ashar di tengah perjalanan. Sebagian mereka berkata, ‘Kami tidak akan melaksanakan shalat ‘Ashar hingga kami sampai di Bani Quraizhah’.
Sebagian mereka berkata, ‘Kami melaksanakan shalat ‘Ashar sebelum sampai di Bani Quraizhah’. Peristiwa itu diceritakan kepada Rasulullah Saw, beliau tidak menyalahkan satu pun dari mereka”. (HR. al-Bukhari).
Ini membuktikan bahwa para shahabat juga ikhtilaf, sebagian mereka berpendapat bahwa shalat Ashar mesti dilaksanakan di Bani Quraizhah, sedangkan sebagian lain berpendapat shalat Ashar dilaksanakan ketika waktunya telah tiba, meskipun belum sampai di Bani Quraizhah. Satu kelompok berpegang pada teks, yang lain berpegang pada makna teks. Inilah cikal bakal ikhtilaf dan Rasulullah Saw membenarkan keduanya, karena tidak keluar dari tuntunan Sunnah.
Setelah Rasulullah Saw wafat pun para shahabat mengalami ikhtilaf dalam masalah- masalah tertentu.


Ikhtilaf Shahabat Ketika Rasulullah Saw Telah Wafat.

فلما فرغ من جهاز رسول هللا صلى هللا عليه وسلم يوم الثالثاء وضا في سريره في بيته وقد كان المسلمون اختلعوا في دفنه
فقال قائل: ندفنه في مسجده وقال قائل: بل ندفنه ما أصحابه فقال أبو بكر: إني سمعت رسول هللا صلى هللا عليه وسلم يقول: ما قبض نبي إال دفن حيث يقبض فرفا فراش رسول هللا صلى هللا عليه وسلم الذي توفي عليه فحعر له تحته
Ketika jenazah Rasulullah Saw telah siap (untuk dikebumikan) pada hari Selasa. Jenazah Rasulullah Saw diletakkan di tempat tidurnya di dalam rumahnya. Kaum muslimin ikhtilaf dalam hal pemakamannya.
Ada yang berpendapat, “Kita makamkan di dalam masjidnya (Masjid Nabawi)”.

Ada yang berpendapat, “Kita makamkan bersama para shahabatnya (di pemakaman Baqi’)”.

Abu Bakar berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Tidak seorang pun dari nabi itu yang meninggal dunia melainkan ia dimakamkan di mana ia meninggal”. Maka kasur tempat Rasulullah Saw meninggal pun diangkat. Lalu makam Rasulullah Saw digali di bawah kasur itu”19.
Ini membuktikan bahwa para shahabat ikhtilaf, baik ketika Rasulullah Saw masih hidup, maupun setelah Rasulullah Saw wafat. Namun kedua ikhtilaf itu diselesaikan dengan tuntunan Sunnah Rasulullah Saw.


19 Imam Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam al-Bashri (w.213H), Sirah Ibn Hisyam, juz.II, hal.663.


Ijtihad Shahabat Rasulullah Saw.

Ijtihad Shahabat Ketika Rasulullah Saw Masih Hidup.

Ketika mengalami suatu peristiwa, Rasulullah Saw tidak berada bersama para shahabat, maka para shahabat itu berijtihad, seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id al-Khudri, ia berkata, “Dua orang shahabat pergi dalam suatu perjalanan. Kemudian tiba waktu shalat, mereka tidak memiliki air, lalu mereka berdua bertayammum dengan tanah yang suci. Lalu mereka berdua melaksanakan shalat. Kemudian mereka berdua mendapatkan air dan waktu shalat masih ada. Salah seorang dari mereka mengulangi shalatnya dengan berwudhu’. Sedangkan yang lain tidak mengulangi shalatnya. Kemudian mereka berdua datang menghadap Rasulullah Saw, mereka menyebutkan peristiwa yang telah mereka alami. Rasulullah Saw berkata kepada yang tidak mengulangi shalatnya, “Perbuatanmu sesuai dengan Sunnah, shalatmu sah”. Rasulullah Saw berkata kepada yang mengulangi shalatnya dengan berwudhu’, “Engkau mendapatkan dua pahala”. (HR. Abu Daud).


Ijtihad Shahabat Ketika Rasulullah Saw Telah Wafat.

المشهور من مذهب  عائشة رضي هللا تعالى عنها أنها كانت ال ترى الغسل لكل صالة

Masyhur dari mazhab Aisyah ra, menurutnya (wanita yang mengalami istihadhah) tidak wajib mandi pada setiap shalat20.
واختلعوا في وجوب السعي بين الصعا والمروة فذهب مالك والشافعي وأصحابهما وأحمد وإسحاق وأبو ثور إلى ما ذكرنا وهو مذهب عائشة رضي هللا عنها و مذهب عروة  وغيره. وكان أنس بن مالك وعبد هللا بن الزبير ومحمد بن سيرين يقولون
بواجب ذلك وليس تطوع هو Mereka ikhtilaf tentang hukum wajibnya sa’i antara Shafa dan Marwah. Menurut Imam Malik, Imam Syafi’i, para ulama kedua mazhab tersebut, Imam Ahmad, Imam Ishaq dan Abu Tsaur, seperti yang telah kami sebutkan (wajib Sa’i), ini adalah mazhab Aisyah, mazhab ‘Urwah dan lainnya. Sedangkan Anas bin Malik, Abdullah bin az-Zubair dan Muhammad bin Sirin berpendapat bahwa Sa’i itu sunnat, tidak wajib21. Hasil ijtihad mereka disebut madzhab.



20  Imam Badruddin al-‘Aini al-Hanafi, ‘Umdat al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, Juz.V, hal.500.
21 Imam Ibn ‘Abdilbarr, at-Tamhid li ma fi al-Muwaththa’ min al-Ma’ani wa al-Asanid, Juz.XX (Mu’assasah al-Qurthubah), hal.151.

Makna Madzhab.

Makna kata Madzhab menurut bahasa adalah: ب
Sedangkan Madzhab menurut istilah adalah: tempat pergi
ِHukum-hukum syar’i yang bersifat far’i dan ijtihadi yang dihasilkan dari dalil-dalil yang bersifat
zhanni oleh seorang mujtahid secara khusus22Pengertian madzhab yang lebih sempurna dan sistematis dengan kaedah-kaedah yang tersusun baru ada pada masa imam-imam mazhab.


Para Imam Mazhab.

1.                 Abu Sa’id al-Hasan bin Yasar al-Bashri, Imam al-Hasan al-Bashri (w.110H).
2.                 An-Nu’man bin Tsabit, Imam Hanafi (w.150H).
3.                 Abu ‘Amr bin Abdirrahman bin ‘Amr, Imam al-Auza’i (w.157H).
4.                 Sufyan bin Sa’id bin Masruq, Imam Sufyan ats-Tsauri (w.160H).
5.                 Imam al-Laits bin Sa’ad (w.175H).
6.                 Malik bin Anas al-Ashbuhi, Imam Malik (w.179H).
7.                 Imam Sufyan bin ‘Uyainah (w.198H).
8.                 Muhammad bin Idris, Imam Syafi’i (w.204H).
9.                 Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Imam Hanbali (w.241H).
10.            Daud bin Ali al-Ashbahani al-Bahdadi, Imam Daud azh-Zhahiri (w.270H).
11.            Imam Ishaq bin Rahawaih (w.238H).
12.            Ibrahim bin Khalid al-Kalbi, Imam Abu Tsaur (w.240H).

Namun tidak semua mazhab ini bertahan. Banyak yang punah karena tidak dilanjutkan oleh para ulama yang mengembangkan mazhab setelah imam pendirinya wafat. Oleh sebab itu yang populer di kalangan Ahlussunnah-waljama’ah adalah empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Bahkan Syekh Abu Bakar al-Jaza’iri menyusun kitab Fiqhnya dengan judul al-Fiqh  ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah (Fiqh menurut empat mazhab).


Imam Mazhab Menyikapi Perbedaan.

22 Imam Ahmad bin Muhammad al-Hanafi al-Hamawi (w.1098H), Ghamz ‘Uyun al-Basha’ir fi Syarh al- Asybah wa an-Nazha’ir, Juz.I, hal.40

Mereka tetap shalat berjamaah, meskipun ada perbedaan diantara mereka pada hal-hal tertentu, misalnya Basmalah pada al-Fatihah, ada yang membaca sirr, ada yang membaca jahr, ada pula yang tidak membaca Basmalah sama sekali. Namun itu tidak menghalangi mereka untuk shalat berjamaah.
كان أبو حنيعة أو  أصحابه والشافعي وغيرهم رضي هللا عنهم يصلون خلف أئمة المدينة من  المالكية وغيرهم وإن كانوا ال
يقرءون البسملة ال سرا وال جهرا
Imam Hanafi atau para ulama Mazhab Hanafi, Imam Syafi’i dan para ulama lain shalat di belakang para imam di Madinah yang berasal dari kalangan Mazhab Maliki, meskipun para imam di Madinah itu tidak membaca Basmalah, baik sirr maupun jahar (karena menurut Mazhab Maliki: Basmalah itu bukan bagian dari surat al-Fatihah)23.


Adab Imam Syafi’i Kepada Imam Hanafi.

وصلى الشافعي رحمه هللا الصبح قريبا من مقبرة أبي  حنيعة رحمه هللا ، فلم يقنت تأدبا معه
Imam Syafi’i melaksanakan shalat Shubuh, lokasinya dekat dari makam Imam Hanafi. Imam Syafi’i tidak membaca doa Qunut karena beradab kepada Imam Hanafi24.


Adab Imam Malik.

Imam Malik berkata,

شاورني هارون الرشيد في أن يعلق (الموطأ) في الكعبة، ويحمل الناس على ما فيه فقلت: ال تععل، فإن أصحاب رسول هللا صلى هللا عليه وسلم اختلعوا في العروع، وتعرقوا في البلدان، وكل عند نعسه مصيب، فقال: وفقك هللا يا أبا عبد هللا
Khalifah Harun ar-Rasyid bermusyawarah dengan saya, beliau ingin menggantungkan kitab al- Muwaththa’ (karya Imam Malik) di Ka’bah, beliau ingin menetapkan agar seluruh masyarakat memakai isi kitab al-Muwaththa’. Saya katakan, “Jangan lakukan! Sesungguhnya para shahabat Rasulullah Saw telah berbeda pendapat dalam masalah furu’, mereka juga telah menyebar ke seluruh negeri, semuanya benar dalam ijtihadnya”. Khalifah Harun ar-Rasyid berkata, “Allah membarikan taufiq-Nya kepadamu wahai Abu Abdillah (Imam Malik)” 25.


Imam Malik VS Imam Hanafi.

23 Waliyyullah ad-Dahlawi, Hujjatullah al-Balighah, (Cairo: Dar al-Kutub al-Haditsah), hal.335.
24 Ibid.
25 Imam Abu Nu’aim al-Ashbahani, Hulyat al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’, Juz.VI (Beirut: Dar al- Kitab al-‘Araby), hal.332.

قال الليث: لقيت مالكاً بالمدينة فقلت له: إني أراك تمسح العرق عن جبينك.
قال عزفت ما أبي حنيعة. إنه لعقيه يا مصري.
.تام وزهد صادق بجواب منه أسرع رأيت ما وهللا :فقال .فيك الرجل ذلك قول أحسن ما :قلت حنيعة أبا لقيت ثم Imam al-Laits bin Sa’ad berkata, “Saya bertemu dengan Imam Malik, saya katakan kepadanya, ‘Saya lihat engkau mengusap keringat dari alis matamu?’.
Imam Malik menjawab, “Saya merasa tidak punya apa-apa ketika bersama Abu Hanifah, sesungguhnya ia benar-benar ahli Fiqh wahai orang Mesir (Imam al-Laits)”.
Kemudian saya menemui Imam Hanafi, saya katakan kepadanya, “Bagus sekali ucapan Imam Malik terhadap dirimu”.
Imam Hanafi menjawab, “Demi Allah, saya belum pernah melihat orang yang lebih cepat memberikan jawaban yang benar dan zuhud yang sempurna melebihi Imam Malik”26.


Komentar Imam Syafi’i Terhadap Imam Malik.

اذا جاءك الحديث عن مالك فشد به يديك
“Apabila ada hadits datang kepadamu, dari Imam Malik, maka kuatkanlah kedua tanganmu dengan hadits itu”.

اذا جاءك الخبر فمالك النجم

“Jika datang Khabar kepadamu, maka Imam Malik adalah bintangnya”.

اذا ذكر العلماء فمالك النجم وما أحد أمن على من مالك بن أنس
“Jika disebutkan tentang ulama-ulama, maka Imam Malik adalah bintangnya. Tidak seorang pun yang lebih aman bagiku daripada Imam Malik bin Anas”.
مالك بن أنس معلمى وعنه أخذت العلم

“Imam Malik bin Anas adalah guruku, darinya aku mengambil ilmu”.

كان مالك بن أنس اذا شك في الحديث طرحه كله

“Imam Malik bin Anas itu, jika ia ragu terhadap suatu hadits, maka ia buang semuanya”27.


Komentar Imam Hanbali Terhadap Imam Syafi’i.

26 Al-Qadhi ‘Iyadh, Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik, Juz.I, hal.36
27 Imam al-Qurthubi (w.463H), al-Intiqa’ fi Fadha’il ats-Tsalatsah al-A’immah al-Fuqaha’; Malik wa asy- Syafi’i wa Abi Hanifah, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah), Hal.23.

عبد هللا بن أحمد بن حنبل قال قلت ألبي يا أبة أي رجل كان الشافعي فإني سمعتك تكثر من الدعاء له فقال لي يا بني كان
الشافعي كالشمس للدنيا وكالعافية للناس فانظر هل لهذين من خلف أو منهما عوض
Abdullah putra Imam Hanbali berkata, “Saya katakan kepada Ayah saya, ‘Wahai Ayahanda, orang seperti apa Syafi’i itu, saya selalu mendengar engkau berdoa untuknya’. Imam Hanbali menjawab, ‘Wahai Anakku, Imam Syafi’i seperti matahari bagi dunia. Seperti kesehatan bagi tubuh. Lihatlah, adakah pengganti bagi kedua ini?!”28.


قال أبو أيوب حميد بن أحمد البصري كنت عند أحمد بن حنبل نتذاكر في مسألة فقال رجل ألحمد يا أبا عبد هللا ال يصح فيه
حديث فقال إن لم يصح فيه حديث فعيه قول الشافعي وحجته أثبت شيء فيه

Abu Ayyub Humaid bin Ahmad al-Bashri berkata, “Saya bersama Imam Hanbali bermuzakarah tentang suatu masalah. Seorang laki-laki bertanya kepada Imam Hanbali, “Wahai Abu Abdillah, tidak ada hadits shahih tentang masalah itu’.
Imam Hanbali menjawab, “Jika tidak ada hadits shahih, ada pendapat Imam Syafi’i dalam masalah itu. Hujjah Imam Syafi’i terkuat dalam masalah itu”29.


Ikhtilaf Ulama Kontemporer:

Para ulama zaman sekarang pun berijtihad dalam masalah-masalah tertentu yang tidak ada nash menjelaskan tentang itu. Atau ada nash, tapi mereka ikhtilaf dalam memahaminya. Ketika mereka berijtihad, maka tentu saja mereka pun ikhtilaf seperti orang-orang sebelum mereka. Berikut ini beberapa contoh ikhtilaf diantara ulama kontemporer:


Contoh Kasus Pertama:

Cara Turun Ketika Sujud.
Syekh Ibnu Baz: Lutut Lebih Dahulu.
Syekh al-Albani: Tangan Lebih Dahulu.
فأشكل  هذا  على كثير من أهل العلم  فقال  بعضهم  يضع
البعير وهذا وهذا هو الذي يخالف بروك البعير ألن بروك البعير يبدأ يديه قبل ركبتيه وقال آخرون بل يضع ركبتيه قبل يديه ، بيديه فإذا برك المؤمن على ركبتيه فقد خالف
هو الموافق لحديث وائل بن حجر وهذا هو الصواب أن
الركبتين قبل اليدين وضا البعير مخالعة وجه أن واعلم Ketahuilah bahwa bentuk membedakan diri dari unta adalah dengan meletakkan tangan terlebih dahulu sebelum kedua
lutut (ketika turun sujud)31.


28 Al-Hafizh al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal,juz.XXIV (Beirut: Mu’assasah ar-Risalah, 1400), hal.372
29 Ibid.
31 Syekh al-Albani, Shifat Shalat an-Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam min at-Takbir ila at-Taslim ka Annaka Tarahu, (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1408H), hal.107.

هو المشروع يضع  جبهته  أيضا  على  األرض  هذا  هو  المشروع  فإذا يسجد  على  ركبتيه  أوال  ثم  يضع  يديه  على  األرض  ثم الذي جاءت به السنة عن النبي صلى هللا عليه وسلم وهو رفع رفع وجهه أوال ثم يديه ثم ينهض هذا
 أن  يضع وليضع يديه قبل ركبتيه فالظاهر وهللا أعلم أنه انقالب كما الجمع بين الحديثين ، وأما قوله في حديث أبي هريرة : حجر وما جاء في معناه ركبتيه قبل يديه حتى يوافق آخر الحديث أوله وحتى يتفق ذكر  ذلك  ابن  القيم  رحمه  هللا  إنما  الصواب مع حديث وائل بن
Masalah ini menjadi polemik di kalangan banyak ulama, sebagian mereka mengatakan: meletakkan kedua tangan sebelum lutut, sebagian yang lain mengatakan: meletakkan dua lutut sebelum kedua tangan, inilah yang berbeda dengan turunnya unta, karena ketika unta turun ia memulai dengan kedua tangannya (kaki depannya), jika seorang mu’min memulai turun dengan kedua lututnya, maka ia telah berbeda dengan unta, ini yang sesuai dengan hadits Wa’il bin Hujr (mendahulukan lutut daripada tangan), inilah yang benar; sujud dengan cara mendahulukan kedua lutut terlebih dahulu, kemudian meletakkan kedua tangan di atas lantai, kemudian menempelkan kening, inilah yang disyariatkan. Ketika bangun dari sujud, mengangkat kepala terlebih dahulu, kemudian kedua tangan, kemudian bangun, inilah yang disyariatkan menurut Sunnah dari Rasulullah Saw, kombinasi antara dua hadits. Adapun ucapan Abu Hurairah: “Hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum lutut, zahirnya –wallahu a’lam- terjadi pembalikan kalimat, sebagaimana yang disebutkan Ibnu al-Qayyim – rahimahullah-. Yang benar: meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan, agar
akhir  hadits  sesuai  dengan  awalnya, agar


sesuai dengan hadits riwayat Wa’il bin
Hujr, atau semakna dengannya30.



Dalam hal ini Syekh Ibnu ‘Utsaimin sepakat dengan Syekh Ibnu Baz, lebih mendahulukan lutut daripada tangan,
فحينئذ يكون الصواب إذا أردنا أن يتطابق آخر الحديث وأوله "وليضع ركبتيه قبل يديه"؛ ألنه لو وضع اليدين
قبل الركبتين كما قلت لبرك كما يبرك البعير. وحينئذ يكون أول الحديث وآخره متناقضان. ... وقد ألف بعض األخوة رسالة سماها (فتح المعبود في وضع الركبتين قبل اليدين في السجود) وأجاد فيه
وأفاد. ... وعلى هذا فإن السنة التي أمر بها الرسول صلى هللا عليه وسلم في السجود أن يضع اإلنسان ركبتيه قبل
يديه.
Ketika itu maka yang benar jika kita ingin sesuai antara akhir dan awal hadits: “ Hendaklah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan”, karena jika seseorang meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut, sebagaimana yang saya nyatakan, pastilah ia turun seperti turunnya unta, maka berarti ada kontradiktif antara awal dan akhir hadits.
Ada salah seorang ikhwah telah menulis satu risalah berjudul Fath al-Ma’bud fi Wadh’i ar- Rukbataini Qabl al-Yadaini fi as-Sujud, ia bahas dengan pembahasan yang baik dan bermanfaat.
Dengan demikian maka menurut Sunnah yang diperintahkan Rasulullah Saw ketika sujud adalah: meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan32.
Jika berbeda pendapat itu membuat orang saling membid’ahkan, pastilah orang yang sujud dengan mendahulukan lutut akan membid’ahkan Syekh al-Albani dan para pengikutnya karena lebih mendahulukan tangan. Begitu juga sebaliknya, mereka yang lebih mendahulukan tangan, pasti akan membid’ahkan Syekh Ibnu Baz dan Syekh Ibnu Utsaimin yang lebih mendahulukan lutut daripada tangan. Maka ikhtilaf dalam furu’ itu suatu yang biasa, selama berdasar kepada dalil dan masalah yang diperselisihkan itu bersifat zhanni. Tidak membuat  orang saling memusuhi dan membid’ahkan.


Contoh Kasus Kedua:

Takbir Pada Sujud Tilawah Dalam Shalat
Syekh Ibnu Baz : Bertakbir.
Syekh al-Albani : Tanpa Takbir.
يشرع للمصلي إذا كان إماما أو منعردا ومر بآية سجدة
وقد  روى  جما  من  الصحابة  سجوده  صلى  هللا  عليه

30 Syekh Ibnu Baz, Majmu’ Fatawa wa Maqalat Ibn Baz: juz.XI, hal.19.
32 Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibn ‘Utsaimin, juz.XIII, hal.125.

ينهض عندما يكبر ثم التالوة، سجود ويسجد يكبر أن ورفا خعض كل في يكون التكبير ألن السجدة؛ من Disyariatkan         bagi         orang         yang melaksanakan shalat, jika ia sebagai imam atau shalat sendirian, ketika melewati ayat Sajadah,    agar    ia    bertakbir    dan   sujud Tilawah.     Kemudian     bertakbir     ketika bangun dari sujud. Karena takbir itu pada
setiap turun dan bangun33.
فلم  يذكر أحد  منهم  تكبيره عليه السالم للسجود  ولذلك وسلم للتالوة في  كثير  من اآليات في  مناسبات مختلعة
التكبير هذا مشروعية عدم إلى نميل Sekelompok shahabat telah meriwayatkan tentang sujud tilawahnya Rasulullah Saw dalam banyak ayat dan di banyak kesempatan yang berbeda-beda, tidak seorang pun dari mereka menyebutkan bahwa Rasulullah Saw bertakbir ketika akan sujud. Oleh sebab itu kami condong kepada    pendapat:   tidak  disyariatkannya
takbir ketika sujud tilawah34.


Dalam hal ini Syekh Ibnu ‘Utsaimin sependapat dengan Syekh Ibnu Baz,

سجود التالوة ليس له تكبير عند السجود وليس له تكبير عند الرفا من السجود؛ ألن ذلك لم يرد عن النبي صلى هللا عليه
وسلم، مالم يكن اإلنسان في صالة، فإن كان في صالة وجب أن يكبر إذا سجد وأن يكبر إذا قام.

Sujud Tilawah tanpa takbir ketika turun sujud dan tanpa takbir ketika bangun dari sujud, karena tidak ada riwayat dari Rasulullah Saw. Kecuali jika seseorang dalam shalat, maka ia wajib bertakbir ketika akan sujud dan bertakbir ketika akan bangun tegak berdiri35.


Contoh Kasus Ketiga:

Shalat Sunnat Tahyatul-masjid di Tempat Shalat ‘Ied.
Syekh Ibnu Baz :
Tidak Ada Shalat Sunnat Tahyatul- masjid.
Syekh Ibnu ‘Utsaimin :
Ada Shalat Sunnat Tahyatul-masjid.
السنة لمن أتى مصلى العيد لصالة العيد ،  أو االستسقاء
مصلى العيد يشرع فيه تحية المسجد كغيره من المساجد،
أن يجلس وال يصلي تحية المسجد ؛ ألن ذلك لم ينقل عن
إذا دخل اإلنسان ال يجلس حتى يصلي ركعتين. السائل:
النبي  صلى  هللا  عليه  وسلم  وال  عن  أصحابه  رضي  هللا
حتى  وإن  كان  خارج  القرية؟  الجواب:  وإن  كان  خارج
عنهم  فيما  نعلم  إال  إذا  كانت  الصالة  في  المسجد  فإنه
القرية؛ ألنه مسجد سواء   ُس  ِّور أو لم  ُي  َس َّور، والدليل على
يصلي  تحية  المسجد  ؛  لعموم  قول  النبي صلى  هللا  عليه
ذلك: أن الرسول صلى هللا عليه وسلم منع النساء الحيض
وسلم:  إذا  دخل  أحدكم  المسجد  فال  يجلس  حتى  يصلي
أن يدخلن المصلى. وهذا يدل على أن له حكم المسجد.
ركعتين متفق  على صحته. والمشروع  لمن  جلس  ينتظر
Tempat       shalat       ‘Ied,       disyariatkan
صالة  العيد  أن  يكثر من  التهليل والتكبير؛ ألن ذلك  هو
melaksanakan shalat Tahyatul-masjid di

33 Al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts al-‘Ilmiyyah wa al-Ifta’, juz.IX, hal.179, no.13206.
34 Syekh al-Albani, Tamam al-Minnah, juz.I, hal.267.
35 Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Liqa’at al-Bab al-Maftuh, Juz.XV, hal.31.

شعار ذلك اليوم ، وهو السنة للجميع في المسجد وخارجه
حتى تنتهي الخطبة. ومن اشتغل بقراءة القرآن فال بأس.
. التوفيق ولي وهللا Sunnah bagi orang yang datang ke tempat shalat ‘Ied atau Istisqa’ agar duduk, tidak shalat Tahyatul-masjid, karena yang demikian itu tidak ada riwayat dari Rasulullah Saw dan para shahabat menurut pengetahuan kami, kecuali jika shalat ‘Ied dilaksanakan di masjid, maka melaksanakan shalat Tahyatul-masjid berdasarkan umumnya sabda Rasulullah Saw, “Apabila salah seorang kamu masuk masjid, maka janganlah duduk hingga ia shalat dua rakaat”, disepakati keshahihannya. Disyariatkan bagi orang yang duduk menunggu shalat ‘Ied agar memperbanyak Tahlil dan Takbir, karena itu adalah syi’ar pada hari itu, itu adalah Sunnah bagi semua di masjid dan di luar masjid hingga berakhir khutbah  ‘Ied. Orang yang sibuk dengan membaca al- Qur’an, boleh. Wallahu Waliyyu at- Taufiq36.
tempat tersebut, seperti masjid-masjid lain. Apabila seseorang masuk ke tempat itu, jangan duduk hingga shalat dua rakaat. Penanya: Meskipun di luar kampung? Jawaban: Meskipun di luar kampung, karena tempat shalat ‘Ied itu adalah masjid, apakah diberi pagar ataupun tanpa pagar. Dalilnya, Rasulullah Saw melarang perempuan yang sedang haidh masuk ke tempat shalat tersebut. Ini menunjukkan bahwa hukum tempat shalat itu sama seperti masjid37.


Contoh Kasus Keempat:

Hukum Poto.
Syekh Ibnu Baz :
Poto Sama Dengan Patung/Lukisan.
Syekh Ibnu ‘Utsaimin :
Poto          Tidak          Sama                  Dengan Patung/Lukisan.
الرسول  صلى  هللا  عليه  وسلم  لعن  المصورين  وأخبر
أما التصوير الحديث اآلن الذي يسلط فيه اإلنسان آلة على
أنهم أشد الناس عذابا يوم القيامة , وهذا يعم التصوير
جسم معين فينطبع هذا الجسم في الورقة فهذا في الحقيقة
الشمسي والتصوير الذي له ظل , ومن فرق فليس عنده
ليس  تصويراً،  ألن  التصوير  مصدر  صور  أي:  جعل
دليل على التعرقة .
الشيء على صورة معينة، وهذا الذي التقطه بهذه اآللة لم
Rasulullah Saw melaknat al-Mushawwir
يجعله  على  صورة  معينة،  الصورة  المعينة  هو  بنفسه
(orang       yang      menggambar),       beliau
يخطط، يخطط العينين واألنف والشفتين، وما أشبه ذلك.
memberitahukan    bahwa    mereka    adalah
Adapun gambar moderen zaman sekarang;

36 Syekh Ibnu Baz, op. cit., juz.XIII, hal.4.
37 Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Liqa’ al-Bab al-Maftuh, juz.VIII, hal.22.

orang-orang yang paling keras azabnya pada hari kiamat. Ini bersifat umum, mencakup poto dan gambar yang tidak memiliki bayang-bayang. Siapa yang membedakan antara poto dan gambar/patung, maka ia tidak memiliki dalil untuk membedakannya38.
seseorang menggunakan alat untuk mengambil gambar objek tertentu, lalu kemudian gambar tersebut terbentuk di kertas, maka itu sebenarnya bukanlah makna tashwir, karena kata tashwir adalah bentuk mashdar dari kata shawwara, artinya: menjadikan sesuatu dalam bentuk tertentu. Sedangkan gambar yang diambil dengan alat tidak menjadikannya dalam bentuk sesuatu. Gambar berbentuk adalah gambar yang dibentuk, bentuk kedua mata,
hidung, dua bibir dan sejenisnya39.


Contoh Kasus Kelima:

Umrah Berkali-kali Dalam Satu Perjalanan.
Syekh Ibnu Baz: Boleh.
Syekh Ibnu ‘Utsaimin: Bid’ah.
س : هل يجوز تكرار العمرة في رمضان طلبا لألجر تكرار العمرة في رمضان
المترتب على ذلك؟
العمرة إلى العمرة كفارة لما بينهما ، والحج المبرور ليس ج : ال حرج في ذلك ، النبي صلى هللا عليه وسلم قال : «
النبي صلى هللا فإذا اعتمر ثالث أو أربع مرات فال حرج في ذلك . فقد له جزاء إال الجنة  متفق عليه . عليه وسلم في حجة الوداع عمرتين في أقل من عشرين اعتمرت عائشة رضي هللا عنها في عهد
. يوما Berulang-ulang melaksanakan Umrah di bulan Ramadhan.
Pertanyaan: apakah boleh berulang kali melaksanakan Umrah di bulan Ramadhan untuk mencari pahala yang disebabkan ibadah Umrah tersebut?40
Jawaban: Tidak mengapa (boleh). Rasulullah Saw bersabda, Satu Umrah ke Umrah  berikutnya  menjadi  penutup  dosa
antara keduanya dan haji  yang mabrur itu
ثم يذهبون السؤال:  فضيلة الشيخ! بعض الناس يأتي من مكان بعيد تكرار العمرة في سفر واحد من البدع إلى  التنعيم  ثم  يؤدون  العمرة،  يعني:  في  سفره  عدة لهدف العمرة إلى مكة ، ثم يعتمرون ويحلون،
عمرات، فكيف هذا؟

ليس  أحرص من  الرسول صلى هللا  عليه وسلم  وال  من الجواب:  هذا  بارك هللا فيك من  البدع  في دين هللا؛ ألنه
الصحابة، والرسول صلى هللا عليه وسلم كما نعلم جميعا ً
من البدع في  مكة  ولم  يخرج  إلى  التنعيم  ليحرم  بعمرة،  وكذلك دخل مكة فاتحاً في آخر رمضان، وبقي تسعة عشر يوماً Safar Satu  Dalam  Umrah  Berulang-ulang الصحابة، فتكرار العمرة في سفر واحد
Adalah Bid’ah.
Pertanyaan: Syekh yang mulia, ada sebagian orang datang dari tempat yang jauh untuk tujuan Umrah ke Mekah, kemudian melaksanakan Umrah dan Tahallul. Kemudian mereka pergi ke Tan’im, kemudian melaksanakan Umrah

38 Syekh Ibnu Baz, op. cit., juz.V, hal.287.
39 Syekh Ibnu Utsaimin, op. cit., juz.XIX, hal.72.
40 Telah dimuat di Majalah al-Yamamah, Edisi:1151. Tanggal: 25 Ramadhan 1411H.

tidak ada balasannya kecuali surga”. (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Maka jika Anda melaksanakan Umrah tiga atau empat kali, tidak mengapa (boleh) melakukan itu. Aisyah telah melaksanakan Umrah dua kali pada masa Rasulullah Saw pada waktu haji Wada’, padahal kurangdari dua puluh hari41.
lagi. Maksudnya, dalam satu perjalanan, ia melaksanakan Umrah beberapa kali. Bagaimanakah ini?
Jawaban: semoga Allah memberikan berkah-Nya kepada Anda. Ini termasuk perbuatan bid’ah dalam agama Allah. Karena tidak ada yang lebih bersemangat melaksanakan ibadah melebihi Rasulullah Saw dan para shahabat. Sedangkan Rasulullah Saw sebagaimana yang kita ketahui semua bahwa beliau masuk ke kota Mekah pada pembebasan kota Mekah pada akhir Ramadhan. Menetap sembilan belas hari di Mekah, Rasulullah Saw tidak pergi ke Tan’im untuk ihram melaksanakan Umrah. Demikian juga para shahabat. Maka berulang-ulang melaksanakan umrah
dalam satu safar adalah bid’ah42.


Contoh Kasus Keenam:

Tarawih 23 Rakaat
Syekh Ibnu Baz: Boleh.
Syekh al-Albani:
Tidak Boleh Lebih Dari 11 Rakaat.
سواء صلى إحدى عشرة ركعة أو ثالث عشرة أو ثالثا فاألفضل للمأموم أن يقوم ما اإلمام حتى ينصرف ،
 -  والصحابة هذا هو األفضل أن يتابا اإلمام حتى ينصرف ، والثالث وعشرين أو غير ذلك. والعشرون  فعلها  عمر  -  رضي  هللا  عنه
فليس فيها نقص وليس فيها إخالل ، بل هي من السنن -
الراشدين الخلعاء سنن Afdhal bagi ma’mum mengikuti imam hingga shalat selesai, apaka shalat (Tarawih) itu 11 rakaat, atau 13 rakaat, atau
23 rakaat, atau selain itu. Inilah yang afdhal, ma’mum mengikuti imamnya hingga   imam   selesai.   23   rakaat  adalah
perbuatan Umar ra dan para shahabat, tidak
اقتصاره صلى هللا عليه وسلم على اإلحدى عشرة ركعة
عليها الزيادة جواز عدم على دليل Rasulullah Saw hanya melaksanakan shalat 11 rakaat, ini dalil tidak boleh menambah lebih daripada itu.
Selanjutnya       Syekh       al-Albani berkata,
فمن ادعى الشتراكها ما الصلوات المذكورات في التزامه صلى هللا صالة التراويح ال يجوز الزيادة فيها على العدد المسنون عليه وسلم عددا معينا فيها ال يزيد عليه
الدليل فعليه العرق Shalat Tarawih, tidak boleh ada tambahan (rakaat) melebihi jumlah yang disunnatkan,
karena shalat Tarawih sama dengan  shalat-

41 Syekh Ibnu Baz, op. cit., Juz.XVII, hal.432.
42 Syekh Ibnu ‘Utsaimin, op. cit., Juz.XXVIII, hal.121.

ada kekurangan dan kekacauan di dalamnya, akan tetapi bagian dari Sunnah al-Khulafa’ ar-Rasyidin43.
shalat yang dilaksanakan Rasulullah Saw secara konsisten dengan jumlah rakaat tertentu, tidak boleh ditambah. Siapa yang menyatakan ada beda antara Tarawih dengan shalat lain, maka ia mesti
menunjukkan dalil44.


Pendapat Syekh Ibnu Utsaimin: Boleh.

حديث ابن عباس رضي هللا عنهما أن النبي صلى هللا عليه وسلم صلى من الليل ثالث عشرة ركعة. ولكن لو صالها اإلنسان ثالث وعشرين ركعة  فإنه ال ينكر عليه؛ ألن النبي صلى هللا عليه وسلم لم يحدد صالة الليل بعدد معين، بل سئل كما في صحيح البخاري عن ابن عمر - رضي هللا عنهما - عن صالة الليل ما ترى فيها؟ فقال: "صالة الليل مثنى، مثنى فإذا خشي أحدكم الصبح صلى واحدة فأوترت له ما صلى"، فبين النبي صلى هللا عليه وسلم أنها مثنى مثنى، ولم يحدد العدد، ولو كان العدد واجباً بشيء معين لبينه رسول هللا صلى هللا عليه وسلم، وعلى هذا فال ينكر على من صالها ثالث
.ركعة وعشرين Hadits riwayat Ibnu Abbas ra, sesungguhnya Rasulullah Saw melaksanakan shalat malam 13 rakaat. Akan tetapi jika seseorang melaksanakan shalat 23 rakaat, maka ia tidak diingkari. Karena Rasulullah Saw tidak membatasi shalat malam dengan jumlah bilangan tertentu. Bahkan ketika Rasulullah Saw ditanya -sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari Ibnu Umar- tentang shalat malam, “Apa pendapatmu?”. Rasulullah Saw menjawab, “ Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat (satu salam). Jika salah seorang kamu khawatir (masuk waktu) shalat Shubuh, maka shalatlah satu rakaat, maka engkau telah menutup dengan Witir”. Rasulullah Saw menjelaskan bahwa shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat. Rasulullah Saw tidak membatasi jumlah bilangan rakaat. Jika jumlah rakaat itu wajib dengan jumlah tertentu, pastilah Rasulullah Saw menjelaskannya. Dengan demikian maka tidak diingkari siapa yang melaksanakan shalat 23 rakaat45.
Contoh Kasus Ketujuh:

Membaca Doa Khatam al-Qur’an Dalam Shalat Tarawih.
Syekh Ibnu Baz: Boleh
Syekh al-Albani: Bid’ah.
24 - حكم دعاء ختم القرآن في الصالة
Ketika Syekh al-Albani ditanya tentang doa
س: بعض الناس ينكرون على أئمة المساجد الذين
khatam al-Qur’an dalam shalat Tarawih,
يقرءون ختمة القرآن في نهاية شهر رمضان ويقولون
beliau menjawab,
إنه لم يثبت أن أحدا من السلف فعلها، فما صحة ذلك؟
ليس له أصل... إذا ختم المسلم يسن في حقه أو يستحب
 : ال حر  في ذلك؛ ألنه ثبت عن بعض السلف أنه فعل
أن يدعو... أما ختم القرآن هكذا في الصالة، صالة
ذلك؛  وألنه  دعاء  وجد  سببه  في  الصالة  فتعمه  أدلة
القيام، فهذا الدعاء الطويل العريض، هذا ال أصل له


43 Syekh Ibnu Baz, op. cit., Juz.XI, hal.325.
44 Syekh al-Albani, Shalat at-Tarawih, (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif, 1421H), Hal.29.
45 Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibn ‘Utsaimin, Juz.XIV, hal.119.

الدعاء في الصالة كالقنوت في الوتر وفي النوازل. وهللا
.التوفيق ولي 24- Hukum Doa Khatam al-Qur’an Dalam Shalat.
Pertanyaan: Sebagian orang mengingkari para imam masjid yang membaca doa khatam Qur’an di akhir bulan Ramadhan, mereka mengatakan bahwa tidak shahih ada kalangan Salaf melakukannya. Apakah itu benar?46
Jawaban: Tidak mengapa melakukan itu (boleh). Karena perbuatan itu benar dari sebagian kalangan Salaf melakukan itu. Karena doa itu adalah doa yang ada sebabnya di dalam shalat, maka tercakup dalil-dalil yang bersifat umum tentang doa dalam shalat, seperti doa Qunut dalam shalat Witir dan bencana-bencana. Wallahu Waliyyu at-Taufiq47.

Waktu Doa Khatam al-Qur’an Dalam Shalat Tarawih:
س : ما موضا دعاء ختم القرآن ؟ وهل هو قبل الركوع
في الثانية أو  : األفضل أن يكون بعد أن يكمل المعوذتين فإذا أكمل أم بعد الركوع ؟  من  الصالة  في  األولى في األخيرة  ، يعني بعد  ما يكمل قراءة القرآن  يبدأ في القرآن  يدعو  سواء في الركعة األولى أو منها أو في الوسط أو في آخر ركعة. كل ذلك ال بأس به الدعاء  بما  يتيسر  في  أي  وقت
القرآن آخر قراءة عند يدعو أن المهم ، Pertanyaan: Bila kah doa khatam al- Qur’an dibaca? Apakah sebelum ruku’ atau setelah ruku’?
Jawaban:  afdhal  dibaca  setelah membaca
surat al-Falaq dan an-Nas. Jika telah selesai
إطالقا Tidak ada dasarnya, jika seorang muslim khatam al-Qur’an, maka ia berhak, atau dianjurkan berdoa. Adapun khatam al- Qur’an seperti ini dalam shalat, saat shalat Qiyamullail, dengan doa yang panjang, ini tidak ada dasarnya sama sekali49.
Syekh al-Albani berkata di tempat
lain,
أن التزام دعاء معين بعد ختم القرآن من البدع التي ال
: َم َسلَّ  َو  ِه  ْي َل َع   َُّللا َّ   َصلَّى     كقوله ، األدلة لعموم ؛ تجوز "النار في ضاللة وكل ، ضاللة بدعة كل" Sesungguhnya     konsisten     dengan     doa tertentu setelah khatam al-Qur’an adalah bagian   dari  perbuatan   bid’ah yang tidak
dibolehkan berdasarkan dalil umum seperti sabda Rasulullah Saw, “Setiap bid’ah itu dhalalah (sesat) dan setiap yang sesat itu dalam neraka50.

46 Telah dimuat di Majalah ad-Da’wah (Saudi Arabia), Edisi: 1658, tanggal: 19 Jamada al-Ula 1419H.
47 Syekh Ibnu Baz, op. cit., Juz.XXX, hal.32.
49 Kaset Syekh al-Albani no.19 dalam Silsilah al-Hady wa an-Nur, disebutkan DR.Abdul Ilah Husain al- ‘Arfaj dalam Mafhum al-Bid’ah wa Atsaruhu fi Idhthirab al-Fatawa al-Mu’ashirah, (Amman: Dar al-Fath, 2013M), hal.266.
50 Syekh al-Albani, as-Silsilah adh-Dha’ifah, Juz.XXIV (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif), hal.315.

membaca al-Quran secara sempurna, kemudian berdoa, apakah pada rakaat pertama atau pada rakaat kedua atau di akhir shalat. Maksudnya, setelah sempurna membaca al-Qur’an, mulai membaca doa khatam al-Qur’an di semua waktu dalam shalat, apakah di awal, di tengah atau di akhir rakaat. Semua itu boleh. Yang penting, membaca doa khatam al-Qur’an
ketika membaca akhir al-Qur’an48.

Pendapat Syekh Ibnu ‘Utsaimin: Tidak Ada Dasarnya, Tapi Hormati Perbedaan.
وأما دعاء ختم القرآن في الصالة فال أعلم له أصالً ال من سنة الرسول صلى هللا عليه وسلم، وال من سنة الصحابة,
هللا, علماء وغاية ما فيه: أن أنس بن مالك رضي هللا عنه كان إذا أراد أن يختم القرآن جما أهله ودعا.  يخر  عن المسجد وهذا في غير الصالة, أما في الصالة فليس لها أصل, لكن ما ذلك هي مما اختلف فيه العلماء رحمهم السنة  وليسوا علماء البدعة,  واألمر في هذا  واسا,  يعني:  ال  ينبغي  لإلنسان  أن  يشدد حتى
القرآن ختم عند الدعاء أجل من المسلمين جماعة ويعارق Adapun doa khatam al-Qur’an dalam shalat, saya tidak mengetahui ada dasarnya dari Sunnah Rasulullah Saw, tidak pula dari Sunnah para shahabat. Dalil paling kuat dalam masalah ini bahwa ketika Anas bin Malik ingin khatam al-Qur’an, ia mengumpulkan keluarganya, kemudian ia berdoa. Tapi ini di luar shalat. Adapun membaca doa khatam al-Qur’an di dalam shalat, maka tidak ada dasarnya. Meskipun demikian, ini termasuk perkara ikhtilaf di antara para ulama, ulama Sunnah, bukan ulama bid’ah. Perkara ini  luas,  maksudnya,  tidak  selayaknya  seseorang bersikap  keras hingga  keluar dari masjid
dan memisahkan diri dari jamaah kaum muslimin disebabkan doa khatam al-Qur’an51.


Contoh Kasus Kedelapan:

Zikir Menggunakan Tasbih.
Syekh ‘Utsaimin: Boleh.
Syekh al-Albani: Bid’ah.
العدد، وهي وسيلة بالبدعة المنهي عنها هي البدع في الدين، والتسبيح فإن التسبيح بالمسبحة ال يعد بدعة في الدين؛ ألن المراد مرجوحة معضولة، واألفضل منها أن يكون عد التسبيح بالمسبحة إنما هو وسيلة لضبط
.باألصابا Sesungguhnya bertasbih menggunakan Tasbih    tidak    dianggap    berbuat  bid’ah
dalam agama,  karena  maksud  bid’ah yang
إن السبحة بدعة لم تكن في عهد النبي صلى هللا عليه و
بعده حدثت إنما سلم Sesungguhnya Tasbih itu bid’ah, tidak ada pada zaman Rasulullah Saw, dibuat-buat setelah masa Rasulullah Saw53.

48  Ibid., Juz.XI, hal.357.
51 Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Liqa’ al-Bab al-Maftuh, Juz.XXXIX, hal.108
53 Syekh al-Albani, as-Silsilah adh-Dha’ifah, Juz.I (Riyadh: Maktabah al-Ma’arif), hal.184.

dilarang adalah bid’ah dalam agama. Sedangkan bertasbih menggunakan Tasbih adalah cara untuk menghitung jumlah bilangan (zikir). Tasbih adalah sarana yang marjuhah (lawan rajih/kuat) dan
mafdhulah (lawan afdhal). Afdhalnya menghitung tasbih itu dengan jari jemari52.



Beberapa pelajaran dari uraian di atas:

Pertama, bahwa ikhtilaf dalam memahami nash (teks) bukan perkara baru, sudah terjadi ketika Rasulullah Saw masih hidup, kemudian berlanjut hingga zaman shahabat setelah ditinggalkan Rasulullah Saw, hingga sampai sekarang ini. Maka yang perlu dilakukan bukan menghilangkan ikhtilaf, seperti rendah hatinya Imam Malik yang tidak mau memaksakan Mazhab Maliki, tapi memahami ikhtilaf sebagai dinamika dan kekayaan khazanah keilmuan Islam, selama ikhtilaf itu dalam masalah furu’, bukan masalah ushul, sebagaimana yang dicontohkan para Shalafusshaleh diatas.
Kedua,, berbeda dalam masalah furu’ tidak menyebabkan ummat Islam saling membid’ahkan. Karena Imam Ahmad bin Hanbal tidak membid’ahkan Imam Syafi’i dan para pengikutnya hanya karena mereka membaca doa Qunut pada shalat Shubuh. Kecenderungan membid’ah orang lain ketika berbeda pendapat, ini berbahaya, contoh: orang yang berpegang pada pendapat Syekh al- Albani, ketika akan turun sujud, ia akan mendahulukan tangan. Jika ia tidak dapat menerima pendapat yang mengatakan mendahulukan lutut, berarti ia membid’ahkan Syekh Ibnu Utsaimin dan Syekh Ibnu Baz.
Contoh lain, orang yang datang ke tanah lapang untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, jika ia berpegang pada pendapat Syekh Ibnu Utsaimin, maka ia akan melaksanakan shalat Tahyatul- masjid. Orang yang berpegang pada pendapat Syekh Ibnu Baz yang mengatakan tidak ada shalat Tahyatal-masjid di tanah lapang tempat shalat Ied. Ia mesti dapat menerima perbedaan, jika tidak dapat menerima perbedaan pendapat, maka ia pasti akan membid’ahkan orang-orang yang berpegang pada pendapat Syekh Ibnu Utsaimin.
Ketiga, seperti yang diwasiatkan al-Imam asy-Syahid Hasan al-Banna,

نعمل فيما اتعقنا ونعتذر فيما اختلعنا
“Mari beramal pada perkara yang kita sepakati, dan mari berlapang dada menyikapi perkara yang kita ikhtilaf di dalamnya”.


52 Syekh Ibnu ‘Utsaimin, Majmu’ Fatawa wa Rasa’il Ibn ‘Utsaimin, Juz.XIII (Dar al-Wathan, 1413H),
hal.174.



SUMBER: 37 MASALAH POPULER

H. Abdul Somad, Lc., MA.
S1 Al-Azhar, Mesir. S2 Dar al-Hadith, Maroko Dosen Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim

No comments:

Post a Comment

COPYRIGHT © 2017 · THEME BY RUMAH ES